RSS

Amerika dan Posisi Dilematis di Timur Tengah

10 Mar

INILAH.COM, Washington – Washington sangat lamban menyikapi gejolak di Timur Tengah beberapa pekan terakhir. Pemerintahan Presiden Barack Obama tampaknya berada dalam situasi dilematis.

Sikap Amerika sulit diduga semenjak Timur Tengah bergolak awal tahun ini. Misalkan saja terhadap kerusuhan di Tunisia yang akhirnya menggulingkan pemimpinnya, Ben Ali. Demikian pula terhadap pertumpahan darah di Mesir, yang berhasil melengserkan Husni Mubarak dari tampuk kekuasaan lebih dari 30 tahun.

Kejadian di Mesir ini sebenarnya mendapat perhatian besar dari Amerika Serikat yang selama ini menjadi koalisi setia Mubarak di Timur Tengah. Setelah Israel , Mesir merupakan negara yang mendapat bantuan dana tahunan terbesar kedua mencapai US$ 1,5 miliar, termasuk untuk militer.

Namun, Obama tampak sangat hati-hati menyikapi gejolak Mesir. Selain tidak ingin kehilangan pengaruh di Mesir, AS khawatir perubahan di Mesir akan memunculkan kelompok Islam yang tidak sejalan dengan kepentingan Amerika.

Hal inilah yang membuat Amerika terlihat ragu-ragu. Pertama memberi dukungan kepada Mubarak, kemudian ragu-ragu dan tak lama mendukung pengunjuk rasa yang makin kuat. Hal serupa terjadi di beberapa negara bergolak lainnya, seperti Bahrain, yang meminta bantuan Negeri Adidaya itu.

Terlihat dari beberapa permintaan dukungan dari negara-negara tersebut, “Kami membutuhkan dukungan sepenuhnya dari AS,” ujar diplomat Bahrain kepada sejumlah pejabat Amerika seperti Kepala Staf Gabungan Laksmana Michael Mullen, Asisten Menteri Luar Negeri Jeffery Feltman, Deputi Penasihat Keamanan Nasional Denis McDonough dan sejumlah pejabat lain.

AS pun kebingungan harus memilih sikap yang mana. Apakah memihak kepada rakyat yang berarti kemungkinan meluasnya instabilitas di Timur Tengah yang tidak bakal menguntungkan AS . Atau tetap mendukung pemimpin berkuasa yang berujung pada semakin meluasnya aksi kekerasan dan situasi yang semakin memburuk. Kenyataan yang memperburuk citra AS di mata rakyat Timur Tengah.

Bagaimanapun, permintaan dukungan ini, menurut diplomat Arab, tergolong sukses. Menteri Luar Negeri Hillary Clinton dan Menteri Pertahanan Robert Gates termasuk dua orang yang menyuarakan dukungan Amerika kepada pimpinan Timur Tengah. Selain support untuk rezim berkuasa, juga mendorong mereka dengan sejumlah agenda reformasi yang dirasa kredibel. Negosiasi menjadi inti dari dukungan Amerika.

Israel juga membuat suaranya terdengar. Saat Mubarak mulai memperjuangkan otoritasnya di Mesir, Negeri Yahudi langsung mulai merayu AS agar segera membuat langkah dengan hati-hati. Terutama meyakinkan para sekutu di Timur Tengah, bahwa mereka tidak ditinggalkan. Israel mewanti-wanti Barat agar mewaspadai kebangkitan kekuatan ekstremisme.

Namun, jika diperhatikan, tak satupun kebijakan AS yang mendorong agar penggantian rezim Arab dilakukan secepat mungkin. Amerika malah menerapkan strategi untuk membantu sekutu lama yang berniat melakukan reformasi. Meski hal ini berarti pelaksanaan demokrasi harus menanti reformasi usai.

Amerika sibuk mengimbau pengunjuk rasa menjalin kerjasama dengan pemerintah masing-masing, agar pergantian rezim bisa segera terjadi. Pendekatan ini memicu munculnya berbagai macam kesimpulan. Salah satunya klaim bahwa Obama meninggalkan mantan Presiden Mesir Hosni Mubarak, sekutu Timur Tengahnya.

“Apa yang kami coba sampaikan adalah perlu terjadi reformasi politik, ekonomi dan sosial. Namun, kami akan melakukan pendekatan dari satu negara ke negara lain,” ujar seorang pejabat yang mengerti masalah ini, namun menolak menyebutkan identitasnya, kepada Wall Street Journal.

“Amerika memang sedang melakukan pergerakan baru, agar bisa ikut menstabilkan kawasan serta peran besar negara ini sendiri,” lanjut si pejabat. Namun perlu diakui, setiap peraturan pasti memiliki perkecualian.

Hal ini terjadi kepada Libya, dimana Presiden Obama secara langsung meminta Pemimpin Muammar Khadafi agar segera meninggalkan jabatannya karena sudah kehilangan legitimasi sebagai pemimpin negara. Mulanya, Obama memang tak menyampaikan apapun selain meminta reformasi pemerintahan mulai dilakukan di negara Afrika Utara yang sedang bergolak itu.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 10, 2011 in berita Internasional

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: