RSS

Enterpreneur Kota batik pekalongan

10 Mar

* Kisah enterpreneur sukses dari pekalongan
Soetrisno Bachir (lahir di Pekalongan, Jawa Tengah, Indonesia, 10 April 1957; umur 53 tahun) adalah seorang pengusaha dan Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN) untuk periode 2005—2010.
Profesi Soetrisno Bachir adalah pengusaha. Bersama kakaknya, Kamaluddin Bachir, Soetrisno berkibar dengan bendera Ika Muda Group yang bergerak di bidang properti (real estate). Melalui grup itu pula dia merintis usaha surat kabar yang kemudian berkembang menjadi harian Republika. Dia kemudian mengembangkan bisnis sendiri dalam bidang bisnis investasi melalui Sabira Group. Kini, dia menjadi salah seorang di antara sedikit pribumi di papan atas bisnis investasi yang memerlukan kecermatan tinggi.

Riwayat Hidup

Latar Belakang Keluarga
Soetrisno memang lahir dari keluarga pedagang di Pekalongan, Jawa Tengah, 10 April 1957. Keluarganya anggota Muhammadiyah, namun punya garis NU dari salah satu pihak. Dalam organisasi, pria yang dikenal dengan inisial SB tersebut aktif di PII (Pelajar Islam Indonesia) dan HMI. Di Muhammadiyah, dia menjadi anggota Majelis Ekonomi PP Muhammadiyah. Dia juga sempat menjadi seorang tokoh Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (Hipmi).

Gemar Membantu
Ketika Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) lahir, SB termasuk yang memberikan banyak dukungan. Para aktivis HMI, Muhammadiyah, serta PII umumnya sangat mengenal nama SB. Ketika memerlukan dukungan untuk mengadakan kegiatan, mereka sering datang ke SB. Sepanjang rencana kegiatannya bermanfaat jelas, biasanya mereka tidak pulang dengan tangan hampa.
Kegemaran itu terus dilakukannya, bahkan saat bisnisnya dihantam krisis moneter pada 1998. “Saya sangat percaya, bila kita sering membantu yang lain, Allah akan membalas berlipat-lipat. Saya sering membuktikan hal itu,” katanya sambil mengutip ayat Alquran.
Dalam kehidupan partai politik, meski bukan pengurus PAN, dia banyak membantu. Tapi, menurut istilah Amien, SB selalu ada di samping. “Saat PAN lahir pada 1998, dia juga aktif memberikan dukungan dari samping. Artinya, bukan sebagai pengurus, tapi memberikan bantuan finansial, termasuk selama kampanye Pemilu 1999,” ujar Amien kepada tentang sosok SB.

Terjun ke Dunia Politik
Sebagai seorang pengusaha, SB awalnya tidak terlalu menunjukkan minat yang besar ketika diminta ikut bersaing dalam kongres PAN mendatang menggantikan Amien. Tapi, dia selalu ingat pesan ibunya. “Ibu saya berpesan agar saya selalu membantu Pak Amien,” ungkap SB.
Selain itu, desakan dan dukungan dari sejumlah pengurus PAN ikut meneguhkan SB maju dalam perebutan kandidat ketua umum PAN. Dia yakin, partai modern tidak bisa ditegakkan hanya dengan wacana. Sukses partai pada masa depan tidak cukup ditopang popularitas pemimpinnya maupun banyaknya pernyataan yang dikutip media. Partai modern memerlukan kerja nyata yang sistematis yang mampu memahami secara detail kebutuhan masyarakat.
Sebagai partai besar, dalam pandangan SB, PAN harus mampu menempatkan kader-kader terbaiknya dalam jumlah memadai, baik dalam legislatif maupun eksekutif. Dan, hal itu tidak bisa dibangun hanya dengan popularitas, tapi harus dengan kerja keras. Itulah yang ingin dia tunjukkan bila terpilih sebagai ketua umum PAN. Dia telah menyusun sejumlah program yang akan dilakukannya. Menurut SB, program tersebut didasarkan pada empat pokok garis perjuangan partai. Yakni, partai dan pemenangan pemilu, pengaderan yang andal, partai yang dicintai rakyat, serta membangun organisasi PAN yang modern.

Untuk operasionalisasi garis perjuangan itu, SB percaya terhadap pentingnya sejumlah program. Yakni, penataan sistem kerja partai; pengembangan sistem informasi kepartaian; pelatihan-pelatihan kader dan pengurus; pengembangan kapasitas DPP, DPC, dan DPD sebagai ujung tombak partai; serta membangun dan mengukuhkan citra sebagai (satu-satunya) partai modern di Indonesia.

sumber : http://id.wikipedia.org

Catatan : Ternyata dikala Pak trisno “sapaan akrab beliau” membangun kerajaan bisnisnya tidak semudah seperti membalikkan telapak tangan, banyak rintangan yang harus dilalui beliau namun karena kegigihan beliau sehingga beliau dapat menikmati hasilnya disaat ini. Inilah yang patut dijadikan contoh bagi para enterpreneur saat ini yang baru terjun dalam dunia usaha.
“Tertawa dan bahagia diatas kegagalan dan penderitaan atau menangisinya dan tersungkur karenanya?”
Semoga kita termasuk kelompok yang pertama berarti kita telah mengetahui arti kenapa kita mesti menderita. Kita telah mengetahui bahwa kesuksesan dan kejayaan membutuhkan kerja keras dan pengorbanan. Karena kita bisa mendapatkan hasil yang berbeda apabila cara kita melakukannya berbeda dengan yang lain.

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 10, 2011 in Mata Kuliah, Technopreneurship

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: