RSS

Rektor UIN Sunan kalijaga lahir didesaku

15 Mar


Masa Muda
Musa Asy’arie dilahirkan di Pekajangan, sebuah desa yang kental dengan budaya santri yang entrepreneurship. Ia dibesarkan dalam lingkungan masyarakat pengusaha. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di SD Muhammadiyah Ambukembang, Ia melanjutkan ke SMP Muhammadiyah di Pekajangan, namun tidak sampai selesai. Ayahnya memindahkan Musa ke pondok pesantren di Tremas, Arjosari, Pacitan, Jawa Timur. Lingkungan pondok pesantren inilah mengubah sikap dan cara pandangnya dalam menapaki kehidupan. Setelah menyelesaikan pendidikan di lingkungan pondok pesantren, Musa menempuh pendidikan kesarjanaannya di Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Kalijaga Yogyakarta jurusan Filsafat. Musa menikah dengan Muslihah teman kuliah satu fakultasnya di IAIN Sunan Kalijaga.

Pendidikan
Sekolah Rakyat Abukembang Pekajangan Pekalongan, 1963.
Pondok pesantren Tremas Pacitan, 1970
Institut Agama Islam Sunan Kalijaga Yogyakarta,1976 (Filsafat)
Institut Agama Islam Sunan Kalijaga Yogyakarta,1991 (Program Doktor)
Mahasiswa tamu The University of Iowa dan The University of Chicago, kuliah Islamic Philosophy dan Reading on the Qur’an dari Prof. Dr. Fazlur Rahman, tahun 1986

Pemikiran Musa Asy’arie
Ada yang memasukkan Musa Asy’arie dalam daftar filosuf Indonesia yang bermazhab pada filsafat arab. Jika disejajarkan dengan beberapa tokoh pemikir Islam revolusioner (bukunya “Menggagas Revolusi Kebudayaan Tanpa Kekerasan”. Musa Asy’arie seorang filosuf mempunyai pengalaman hidup yang multi-dimensi, sebagai Guru Besar Filsafat Islam UIN Yogyakarta, sekaligus sebagai birokrat dan juga pengusaha. Pengalamannya dalam dunia usaha di tulis oleh Nashruddin Anshoriy “Berjuang dari Pinggir, Potret Kewiraswastaan Musa Asy’arie”, diterbitkan oleh LP3ES 1995. Pemikiran Musa Asy’arie lebih cenderung pada upaya membentuk manusia yang berpikir bebas. Ia berpendapat bahwa berpikir an sich adalah bebas sebebas-bebasnya. Berpikir yang salah bukan suatu kejahatan, tidak kriminal, sehingga tidak perlu ditakuti. Nabi Muhammad SAW pernah menegaskan perlunya manusia berpikir yang sungguh-sungguh atau ijtihad, jika salah pahalanya satu, dan jika benar pahalanya dua. Hakikat manusia ditentukan oleh eksistensinya dalam hidup, yaitu suatu karya kesalihan sosial. Dalam disertasinya “Konsep Manusia Sebagai Pembentuk Kebudayaan dalam Alquran” yang dipertahankannya dalam ujian disertasi 26 januari 1991, Musa Asy’arie menolak pandangan dualisme (jasmani dan rohani) manusia yang selama ini mempengaruhi cara berpikir mayoritas umat Islam. Hakikat manusia tidak ditentukan oleh unsur yang membentuknya, tetapi oleh amal perbuatannya. Orientasi hidup manusia adalah ke depan, bukan ke belakang.

Kontribusi Gagasan

Jika bagi umat Islam selama ini telah menempatkan pribadi Rasulullah SAW, sebagai rujukan bagi keteledanan hidup seorang muslim, sebagaimana dijelaskan oleh Alquran sebagai Ushwatun Hasanah, maka keteladanan itu bagi Musa Asy’arie, juga ada pada keteladanan berpikir. Seharusnya Rasulullah SAW., juga menjadi teladan berpikir bagi umat Islam, apalagi Rasulullah SAW dikenal mempunyai kecerdasan yang tinggi (fathonah), sehingga umat Islam dalam berpikirnya tidak perlu diombang-ambingkan ke barat atau ke timur. Pemikiran inilah yang kemudian dituliskan oleh Musa Asy’arie dalam bukunya “Filsafat Islam ; Sunnah Nabi dalam Berpikir”.

sumber : http://id.wikipedia.org

 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada Maret 15, 2011 in Mata Kuliah, Technopreneurship

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: